Ketika tunas ini tumbuh
Serupa tubuh yang mengakar
Setiap nafas yang terhembus adalah kata
Angan, debur, dan emosi bersatu dalam jubah berpautan.
Tangan kita terikat,
Lidah kita menyatu,
Maka setiap apa terucap adalah sabda Pandita Ratu.
Ah… di luar itu pasir… di luar itu debu
Hanya angin meniup saja lalu terbang hilang tak ada
Tapi kita tetap menari
Menari, cuma kita yang tahu.
Jiwa ini tandu,
Maka duduk saja
Maka akan kita bawa semua
Karena kita adalah satu.
Sembilan tahun sudah sejak pertama kali kudengar puisi ini dilantunkan oleh Dian Sastrowardoyo sebagai Cinta dalam sinema Ada Apa Dengan Cinta. Ini adalah salah satu puisi yang sangat bermakna dalam hidupku. Puisi ini membangkitkan gairahku dalam dunia sajak. Aku belajar berbicara dengan hati sejak kudengar puisi ini sembilan tahun lalu. Puisi ini pun puisi yang selalu mengukuhkan pertautan hati aku dengan segenap sahabatku. Semoga, puisi ini bisa menjadi saksi bisu persahabatan sejati yang kumiliki dengan berbagai insan di muka bumi. Untuk itu, kupersembahkan puisi ini kepada seluruh sahabatku. Sahabat yang selalu setia kepadaku karena kita adalah satu untuk selamanya.
Terima kasih sebanyaknya, kawan. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kalian satu kebahagiaan abadi.
Friends Forever.
With Love,
eldios.©

No comments:
Post a Comment