First of all, I apologize that I have to write this in Indonesian language because it would be a much better story if I wrote in Indonesian. Also, because I am proud of Indonesian language.
AKU PUNYA HARAPAN... - Sebuah cerita -
23 tahun 7 hari sudah aku menapaki jalan hidup aku. Sebuah perjalanan yang sungguh tidak mudah. Begitu banyak rintangan yang aku lalui. Tekanan dan tuntutan yang tiada henti datang dari berbagai pihak. Selama 21 tahun aku berhasil melangkah tanpa kesulitan yang sangat berarti. Aku mampu mempertunjukkan kemampuanku untuk meraih apa yang dicita-citakan keluarga dan kerabat aku. Sekali lagi, yang dicita-citakan keluarga dan kerabat aku. Namun, semua ini menjadi berat ketika usiaku beranjak dari angka 21. Aku kehilangan kakek aku yang selama hidupnya belum pernah aku berbakti kepadanya. Yang lebih menusuk di jantungku adalah kenyataan dia pergi tanpa sempat melihat aku untuk terakhir kalinya. Aku tiba tepat di saat beliau sudah berlepas. Aku menyesal, sungguh. Hampir 2 tahun, tapi aku belum bisa melupakan kejadian di hari itu. Kehilangan beliau bukanlah satu-satunya masalah bagi aku. Namun, di saat yang bersamaan aku telah membuat satu keputusan besar dalam hidup aku untuk kembali berstatus sendiri. Aku tidak menyesali keputusan itu, namun kukesali, sungguh, aku pernah menghabiskan 4 tahun untuk hal percuma, karena semenjak kejadian itu, aku hidup sendiri. Hikmah dari 4 tahun dalam sebuah hubungan hanya menyisakan seorang teman. Hanya seorang. Beribu hal yang harus kuperbaiki untuk kembali membangun kokoh jati diriku. Aku terperosok jatuh ke satu rawa yang sungguh melekat di saat itu.
Semenjak itu, aku pun perlahan-lahan memperbaiki diri. Menyusun kembali tata cara hidupku. Kembali ke keluarga adalah yang utama untuk aku. Berusaha kembali ke dalam pelukan kakak dan adik aku adalah yang tersulit karena sungguh aku telah memporak-porandakan hubunganku dengan mereka selama 4 tahun sebelumnya. Namun, aku mengerti, aku belajar, bahwasanya keluarga akan selalu ada untuk kita dan selalu bersedia menerima kita kembali apapun dan kapanpun, bagaimanapun keadaan kita. Tekadku sejak itu hanya 1. Aku ingin berbakti kepada mereka. Kepada ibu. Kepada ayah. Kepada saudari-saudariku. Kepada nenek.
2 tahun sudah berlalu. Memang, belum sepenuhnya aku berhasil mengembalikan kepercayaan mereka terhadapku. Namun, aku yakin, aku telah menunjukkan bahwa aku adalah bagian dari mereka dan sampai akhir hayatku, aku tidak akan lagi mengecewakan mereka seperti yang pernah kulakukan. Karena, aku tahu ketika ajal tiba, hanya keluarga dan teman lah yang kita butuhkan untuk ada bersama kita.
Oleh karena itu, di samping keluarga, aku pun kembali menyulam benang-benang persahabatan yang terputus selama 4 tahun. Aku mencari mereka satu per satu kembali tanpa lupa mencari yang baru. Aku sunggu bersyukur beribu syukur karena kini aku punya teman yang sangat berarti bagi aku. Temanku kini adalah teman seperjuangan. Teman yang berani berdampingan denganku untuk menatap masa depan. Bersama mereka, aku berjuang melawan semua takdir di muka bumi. Karena, pernah aku tersesat di jurang antara hidup dan mati, hingga aku terselamatkan dan aku berpikir kala itu. Apabila, aku mati dan tiada sesiapa yang akan datang untuk menyimpan senyumku dalam hati mereka. Bagiku, kebahagiaan sejati adalah ketika kita bisa membagi kebahagiaan itu bersama kerabat dan sesama umat manusia. Dan, itulah tujuan hidupku. Keinginanku adalah kehidupan abadi. Aku ingin senantiasa hidup dalam hati keluargaku, kawan, dan kerabatku walaupun aku meninggalkan mereka untuk selamanya. Aku telah berusaha dimanapun aku berada. Aku selalu berusaha yang terbaik untuk memperpanjang daftar nama teman-temanku. Di hari ulang tahun aku yang ke-23 minggu lalu, aku menyadari bahwa aku memiliki lebih banyak teman sekarang ini. Banyak orang yang sungguh tidak pernah kubayangkan melayangkan suratan ucapan selamat. Tetapi, di sisi lain, aku juga kecewa, karena ada beberapa teman yang lupa, aku paham situasi mereka. Karena perbedaan geografi dan waktu dan kesibukan mereka di tengah karir mereka, sesaat mungkin mereka terlupa dan ketika ingat kembali, mereka sudah terlambat. Namun, ada 1 kenyataan yang sangat pahit. Seorang teman yang sangat mengetahui dengan pasti tentang hari aku itu, tidak mengucapkannya. Sedihnya, ia berada di satu negara denganku. Ia berada di satu kampus. Ia bahkan berada di bawah satu atap. Pintu kamar kami hanya bersebelahan. Selama ini, aku berkira bahwa dia salah satu teman terbaik aku, ternyata aku salah, dia bukan lagi teman terbaikku. Dia hanya seorang kerabat. Seorang kolega, sesama mahasiswa. Apakah dia lupa? Maaf, itu bukan lupa, karena lupa berarti tidak tahu. Dia tahu, tapi dia tidak ingin mengucapkan selamat kepadaku. Namun, aku bersyukur, karena aku belajar satu hal darinya. Kini aku mengerti, siapa sesungguhnya teman yang menganggapku sebagai sahabat, siapa yang menganggapku kawan, dan siapa yang hanya MEMANFAATKAN AKU. Dia yang kini tidur di lantai kamar sebelah termasuk dalam kategori terakhir. Pahit tapi itulah fakta. Tak terbantahkan. Namun, semua ini tidak akan menyurutkan aku dalam berjuang memperpanjang daftar nama kawan, teman, sahabat, dan kerabat aku. Sulit, itu pasti. Namun bukan tidak mungkin. Karena itu, harapku hanyalah aku bisa mendapatkan KEBAHAGIAAN.
Di antara usia 21 tahun dan 22 tahun hidupku, aku hanya berusaha yang terbaik untuk menulis cerita yang terindah antara aku dan keluargaku dan temanku. Dan, aku rasa aku tidak gagal, kalau aku tidak bisa dikatakan berhasil, tapi aku puas dengan yang aku raih. Tetapi, beranjak dari 22 tahun, beruntun masalah datang menghampiriku. Dimulakan dari permasalahan karir aku nantinya yang hingga kini belum terselesaikan dan lebih bisa dikatakan terbengkalai karena aku berjuang sendiri dan merupakan minoritas karena takdir menyatakan bahwa aku satu-satunya mahasiswa berkewarganegaraan asing di dalam kelasku. Sungguh, tidak terbayangkan olehku apabila aku berjuang membanting nafas dan menguras cairan otakku hanya untuk menjadi seorang dokter penggangguran. Absurd. Gila. Itu yang bisa kuteriakan. Namun teriakanku hanya berarti angin bagi mereka yang berkuasa. Aku terlupakan dan panik akan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Bikkhu. Ayah. Ibu. Kakak. Adik. Teman. Profesor. Paranormal. Semua sudah kutemui. Namun, tidak satupun bisa memberikan aku jawaban. Aku kini sudah 6 bulan hidup dalam satu kekhawatiran tiada henti. Seringkali aku menangis. Aku ingin berteriak. Tapi, tak mampu. Aku panik. Panik. Panik. Sekali lagi, panik!
Kepanikan tiada henti ini, menjadi mimpi buruk bagiku. Mimpi yang sangat buruk. Bahkan kesehatanku pun ikut terpengaruh. Semenjak kasus ini terkuak Januari lalu, kesehatanku pun mulai menurun. Jarak tempuh lari aku turun separuh walaupun berat badanku turun 6 kg. Jantungku lebih sering berdebar 2 kali lebih sering dari pada sebelumnya. Keletihan berlebihan sering kurasakan. Kadangkala, aku tak mampu beranjak dari kasurku selama 10 jam. Sakit kepala. Perut kembung. Beberapa pertanda kecil. Namun yang terbesar adalah kenyataan bahwa aku sering merasakan sakit di dadaku. Sakit yang sangat tak tertahankan. Seperti tertumbuk batu di awal, lalu dilanjutkan rasa terikat di sekeliling dada kiri. Dan bila pertanda itu datang, nafasku akan tersengal selama beberapa jam. Semakin hari, penyakit ini semakin mengganggu hidupku. Aku tak tahu apa yang menjadi puncanya, tapi aku harap aku masih bisa hidup lebih panjang. Bila tidak, aku ingin memohon maaf kepada semua orang yang kepada siapa aku pernah bersalah. Bila aku masih diberikan waktu, aku ingin semua masalah ini cepat terjawab. Dan, semoga aku bisa hidup dalam DAMAI.
Terakhir. Harapan aku dalam usia ke-23 ini adalah sesosok pendamping. Seseorang yang bisa mendukung aku dan bersama-samaku memperjuangkan cita-citaku. Tak semestinya dia menjadi seseorang yang menjadi kekasihku. Aku berharap ada seseorang yang bisa selalu ada bersamaku, saling memahami dan bisa berpacu bersama dalam satu hati. Aku bukan ingin bercinta. Tetapi, aku rasa aku butuh satu CINTA.
23 tahun 7 hari sudah berlalu. Begitu panjang namun begitu cepat. Begitu banyak yang kujalani tapi banyak juga yang tak tertuliskan. Oleh sebab itu, aku berhenti sejenak hari ini. Sesaat kembali aku merenungi setahap demi setahap cerita tentang aku. Tawa dan tangis melebur. Senyum dan sendu bersatu. Manis dan pahit telah terjadi. Semua kulalui bersama dengan keluargaku, dengan kawan dan kerabatku.
Maka, melalui ceritaku ini, aku ingin mengucapkan yang seringkali terlupakan olehku. Pertama-tama, aku ingin berterima-kasih kepada Lord Buddha yang telah banyak memberikanku pengertian dalam menghadapi hidup melalui ajaran-ajaran Beliau. Kedua, terima kasih kupanjatkan kepada ibu tercinta atas 23 tahun 9 bulan 17 hari merawatku. Sungguh, satu cinta yang tiada tara. Inginku melihat ibu tersenyum karena aku membuat beliau tersenyum. Ketiga, terima kasih kuhaturkan kepada ayah yang senantiasa membimbingku mesti keras dan disiplin tinggi namun aku tahu bahwa beliau mencintaiku. Keempat, untuk kakak dan adik aku yang telah banyak kusakiti, terima kasih atas semua dukungan dan doa yang telah mereka berikan. Kelima, untuk semua teman terbaik aku: Wi. Gr. Ca. Do. Ut. Ul. tanpa mereka tiada pernah ada aku, karena mereka selalu ada untuk aku. Mereka lah alasan aku masih berjuang, karena aku ingin mempertunjukkan kepada dunia bahwa persahabatan adalah hal terindah dalam hidup. Terakhir, terima kasih sebanyaknya kepada semua teman-teman lain dan kerabat-kerabatku yang baik secara langsung maupun tidak langsung telah mendukung dan mendoakan aku, terutama SL dan LZR.
Kita mungkin baru berjumpa 1 minggu, 2 bulan, 3 tahun, 1 windu, 1 dekade atau pun seumur hidupku, tapi aku ingin kita bisa terus saling memiliki sampai setidaknya 100 tahun lagi bahkan sampai kita sudah bersama-sama tidak bersemayam di muka bumi ini lagi. Karena, cinta dan kasih hanya terpisahkan oleh kebencian. Cinta dan kasih tidak akan pernah terputuskan oleh perpisahan maupun maut.
"23 is not 24 yet but it is clearly not 22 anymore. Being 23 is just another new chapter I am destined to write in my life. It should not be like 22 but it must be better, so I can write a better 24 next year."
In the age of 23, I just wish to live in LOVE, PEACE and HAPPINESS...
A story for you whom I love.
Hasta!
eldios©
Dublin, 7 Mei 2009
No comments:
Post a Comment