Air Mata Dari Hati
Gelegar gemuruh halilintar menerkam
Badai taifun menghembus mencekam
Menakutkan diriku di tengah malam
Terngiang satu cerita timbulkan geram
Aku terpukul terjatuh dalam liang lahat
Mematung rapuh diikatkan jemari kawat
Aku mulai bertanya tentang arti kiamat
Serta merta berlindung cari selamat
Tetesan embun pagi buyarkan mimpi
Membangunkan aku dari galau hati
Simbah darah berdesir di jantung hati
Meracau berteriak macam kenari
Aku tidak mau mati
Namun.. apa ini yang dikata takdir?
Segalanya membuat getar di bibir
Mendidihkan darah di titik nadir
Tumpah ruahkan air mata terakhir
Namun.. semuanya terasa sia-sia belaka
Karena galau belum mau beranjak juga
Tinggalkan aku dalam rasa putus asa
Entah kemana lagi aku bisa bercerita
Tentang aku dan dia
Tentang semua yang membuatku binasa
Tentang segala yang alirkan air mata
Aku hanya bisa menangis tak berkata
Walaupun Tuhan itu ada
Entah kapan aku bisa kembali bersahaja
Air mataku sudah sampai tetes terakhir
Sudah sampai aku tidak dapat lagi berpikir
Hanya menutup mata yang ada di fikir
Dan.. semoga mereka yang hari ini telah menghadiahi aku suatu kisah tentang pembunuhanku bisa tersadar seandainya mereka bangkit dari kubur dan menyaksikan penderitaanku hari ini. Aku tidak akan pernah menyerahkan nyawa walau aku tidak akan membunuh juga. Sampai di akhir zaman kita berjumpa nanti, hanya kita yang tahu apa yang akan terjadi.
Dublin, November 28th 2008
Edvyn Andy 'eldios' Wongso©
Ini bukan dendam. Bukan kebencianku pada seseorang. Hanya rasa iba aku padanya atas kesalahan demi kebodohan demi kebodohan yang dia telah lakukan terlampau batas. Namun, dia bukan membunuh dirinya sendiri saja tetapi ikut menyeret aku ke dalam liang kubur. Aku tidak mau mati! Aku akan melawan! Aku tidak akan masuk ke liang kubur sebelum janji-janjiku terpenuhi!
Hasta manana.
With Love,
eldios
No comments:
Post a Comment